Showing posts with label Daisy. Show all posts
Showing posts with label Daisy. Show all posts

Tuesday, 8 January 2013

0 comment

Daisy. Keindahan yang sederhana #8

ASTRID
Semalam gue bilang sama teman-teman gue kalau gue suka sama Astrid, anak kelas X-3 yang wajahnya agak kaukasia Hari ini kelas agak ramai gara-gara mereka bilang tadi Astrid nyariin gue.

“Lo udah move on dari si Fika?” Si bigos kepoo

Gue nggak jawab, malah duduk di kursi sambil menatap Fika yang lagi sibuk nulis, bisa gue tebak dia buat puisi.

“Fik, kasian amat gue nggak disapa hari ini? ” Begitulah Fika, kalau sedang serius sering gak acuh.

Hari ini senyum Fika agak beda “Iya, maaf, Han. Kenapa? kayaknya hari ini kamu seneng banget?”

“Soalnya tadi Astrid nyariin gue.”

Fika tersenyum lagi “Kamu suka sama Astrid?”

“Iya.”

Dia menatap mata gue kemudian menghembuskan nafas “Selamat ya, Farhan, Astrid juga suka sama kamu. Aku sama Astrid satu SMP, semalam dia SMS aku kalo dia naksir sama kamu,” Ceritanya “Eh pagi-paginya aku dapat berita kalo kamu juga suka sama dia. Bisa kebetulan begini, ya.”

Gue diam. Muncul perasaan yang nggak enak di hati gue. Gue ngerasa bersalah sama Fika karena udah ngebohongin dia, tapi gue nggak bisa terus-terusan begini. Gue harus ngalihin perasaan gue ke orang lain.

“Jadi kamu berubah demi Astrid, Han?”

“Hah?”

“Yang waktu itu kamu update status, lho... kamu berubah demi Astrid, kan?”

Gue bingung mau jawab apa. Nggak mungkin banget gue jujur ‘nggak, status itu buat elooooo!’

“Nggak juga, kok. Eh, gimana hubungan lo sama si Fauzan?” Gue ngalihin pembicaraan.

Fika tertegun “Baik-baik aja, kok. Nanti dia ngajakin aku jalan-jalan tapi aku tolak,” Katanya “Aku malu karena aku ngerasa... aku orang aneh. Kak Fauzan juga bilang gitu gara-gara aku sering bengong dan ngomong sendiri. Lagian aku jadi minder abis liat perempuan lain yang suka sama dia. Aku bukan apa-apa.”

FYI, bengong dan ngomong sendiri itu kebiasaan Fika, tapi alasan dia bengong itu. Satu, dia suka mikirin jalan cerita karena dia suka bikin novel. Dua, dia lagi berimajinasi buat karya lukisnya. Dan soal ngomong sendiri, biasanya dia dapat ide atau kata-kata yang bagus, atau juga dia lagi mikirin sesuatu buat karyanya. Dia nggak aneh, dia unik. Kenapa dia nggak pernah sadar kalo dia juga mempesona? Dia perempuan yang jujur, baik hati, peduli sama orang lain, lembut(meskipun orang lain nangkapnya lemot), dia benar-benar sosok perempuan yang sempurna di mata gue!

“Lo nggak aneh, Fik. Lo unik. Lo beda.” Bela gue, “Lo manis. ” dan cuma itu kata-kata yang bisa gue ucapin, sisanya gue simpan di hati karena nggak mungkin gue lontarin.

“Makasih, ya Farhan.” Katanya, lalu dia keluar dari kelas dan nggak balik lagi ke kelas.

*

Rupanya Fika ada di ruang UKS. Katanya, sih nggak enak badan. Guru yang jaga UKS minta dia pulang, tapi dia bersikeras nggak mau pulang. Alasannya sih di rumah nggak ada siapa-siapa, orang tuanya kerja di luar kota, kakaknya kuliah di Yogya, dia sendirian di rumah.

“Fik, lo gapapa?” Tanya gue. Fika keliatan lemas, bibirnya pucat, setelah gue sentuh keningnya, panas.

“Lho, Farhan?”

Gue nengok ke belakang, ada Astrid, dia kelihatan malu-malu melintasi gue, kemudian mendekati Fika dan menyuruhnya tidur.

“Lo deket sama Fika?” Astrid memulai pembicaraan, kemudian kami keluar dari ruang UKS dan duduk di bangku dekat ruang UKS yang tempatnya agak belakang.

“Banget. Kenapa?”

“Nggak, heran aja. Bisa ada cowok yang deket sama dia. Padahal dia nggak pernah akrab sama cowok.”

Gue agak senang juga, sih kalo tau gue cowok pertama yang bisa dekat dengannya. Nyihui.

Astrid cantik, jujur sih, dia lebih cantik dari Fika. Dan setelah gue cari tahu tentangnya, dia tipikal perempuan yang fashionable, dan mudah bergaul. Hidungnya lebih mancung, bibirnya seperti angelina jolie (lebay).

“Lo siapanya dia?” Tanya gue penasaran, gue bingung apa iya mereka cuma teman SMP? Kayaknya dia tau banget tentang Fika?

“Gue sahabatnya. Dan... katanya Fika, lo suka sama gue...ya?”
Mampus, mati gue. Gue udah pura-pura suka sama orang yang salah.

“Lo mau ngasih kado apaan?” Gue mengalihkan pembicaraan.

“Gue nggak kepikiran mau ngadoin apa, akhirnya gue beliin dia boneka siberian husky yang gede, deh. Lo sendiri?”

Gue berdehem, kemudian mikir sejenak “Gue punya ide. Sini, gue bisikin!”
Astrid mendekatkan telinganya ke bibir gue, kemudian gue bisikin sesuatu.
( Label: , ) Read more

Saturday, 29 December 2012

0 comment

Daisy. keindahan yang sederhana #7

Nganterin Fika! Yay!

Setiap hari yang gue dengar dari bibirnya pasti Fauzan, Fauzan, dan Fauzan. Entah gue bodoh atau nggak gue masih saja mengharap, masih nggak ada niat move on meskipun tau dia nggak akan melirik gue.

Yang lebih parahnya, Fika sudah tahu perasaan gue. Gue takut dia bakal menghindar, tapi dia menanggapnya biasa aja seolah nggak ada apa-apa. Dia malah menepisnya dan nggak percaya kalo gue ada rasa sama dia. Dia malah bilang kalo dia bukan tipe gue, makanya gue nggak mungkin suka sama dia, lagian dia teman gue. (Sebelumnya gue emang pernah bilang kalo tipe gue itu nggak kaya dia, tapi gue aja bingung kenapa gue malah terpikat sama dia.)

“Fik, lo masih di sini?” Tanya gue “Jemputan lo mana?”

“Lagi di Bogor,” Jawabnya “mau latihan jam berapa?”

Gue ngelirik arloji “Sebentar lagi, kali ini sampe malem soalnya bentar lagi gue mau ikut kejuaraan.”

Fika keliatan seneng “Selamat ya, Farhan. Kamu pasti bisa!”

Dukungannya memacu semangat gue, gue apit hidungnya yang mungil dengan kedua jari sampai dia meronta baru gue lepas. (buset, berani banget gue ngelakuin ini?!

“Ciye, mesra amat,” Kak Erik, senior gue malah menggoda gue, dia berbisik “Gue kira maho :bettys: , gak taunya naksir sama yang ini.”

“Kaga! ” Gue mendorongnya.

“Halah speak aja lo,”

“udah udah udah! Ayo latihan!” Gue menarik sabuknya, kemudian memulai latihan. Dari lapangan gue lihat Fika duduk. Tunggu dulu, dia bilang yang ngejemput di Bogor, terus dia pulang sama siapa?

Gue meminta izin sebentar untuk keluar lapangan, lalu menghampirinya yang lagi duduk melihat anak tae kwon do latihan.

“Lo pulang naik apaan? Jemputan lo ke Bogor, kan?”

Dia mengangguk “Nggak tau, aku bingung mau naik apa. Naik angkutan umum nggak tau jurusannya, naik ojek sama bajaj uangnya kurang.”

“kenapa gak bilang sama gue aja buat bareng? Kenapa diem aja lo?”

Dia menunduk “Aku malu minta tolong sama kamu, Han.”

Gue melongo “Yaampun, Fik. Kita temenan udah berapa bulan? Masa masih malu juga? Gini yah, Fik. Kapanpun lo butuh bantuan, gue pasti bakalan bantuin lo. Pasti. Termasuk nganterin lo ke ujung dunia!”

Gue baru sadar kalo kata-kata tadi berlebihan dan ngebuat dia tertawa kecil. Gue penasaran liat dia ketawa ngakak.

“Iya, makasih ya, Farhan.” Dia tersenyum lagi, senyuman sejuta wattnya(gue bilangnya begitu).

“Tapi lo nungguin gue latihan sampe malem gapapa?”

Ia mengangguk “Dikasih hati masa masih minta jantung? Aku tungguin kamu sampe selesai, kok. Latihannya gak usah buru-buru. Aku pasti tungguin. ”

“Yaudah.”

“Aku tungguin di pos satpam, ya.”

Gue mengangguk, kemudian kembali latihan. Post satpam kami untungnya baik hati, ramah dan tidak sombong, biasanya banyak anak-anak yang nunggu jemputannya di pos situ. Satpam kami memang agak gaul juga, sih. Yah, begitulah, gak penting juga diceritain.

Gue ngeliat ke sekitar, kayaknya anggota makin berkurang aja. Mungkin latihannya berat bagi mereka?

“Farhaaan... nanti anterin gue pulang, ya.” pinta Cindy, anak kelas X-1 yang katanya suka sama gue. Sifatnya buruk, sejak SMP suka bully orang, juga terkenal berisik gara-gara suaranya yang meleking. Gue ngeri kalo gue cewek, dan saingan gue adalah Cindy.

“Sori, gue mau nganterin orang.”

“siapa?”

“Fika.”

Raut wajahnya berubah, dia tampak kesal “Pasti anaknya udah pulang! Sekarang udah malem, Han. Mana mau dia nungguin lo?”

“Fika bilang bakal nungguin gue, kalo dia bilang bakalan nungguin gue, dia pasti bakal nungguin. Gue percaya sama Fika. Dia bukan kayak cewek yang lo kira.”

Cindy ngambek sambil ngedumel nggak jelas.

Akhirnya latihan selesai, gue buru-buru ambil motor, tapi sebelumnya sholat di masjid sekolahan dulu, kemudian menghampiri Fika di pos satpam. Dia sedang duduk sambil terus menguap, sepertinya mengantuk.

“Hoi belo. Ngantuk? Udah sholat belom?”

Dia menggeleng “lagi nggak sholat,” lalu bangkit dan menaiki motor. Dia meletakan tas di depannya dan duduk agak jauh.

“Sori, ya rada ngebut.”

“Iya, gapapa.”

Akhirnya gue mengantar Fika pulang sampai ke depan gerbang rumahnya. Rumah sederhana berpagar kayu dan kelihatan pohon mangga dari sini. Rumah Fika emang cukup jauh dari sekolahan, tapi rasanya cepet banget nganterin dia.

“Makasih ya, Farhan.” Katanya sambil menguap.

“Eh, tadi gak ada yang mau nganterin lo, apa?”

“Kak Fauzan tadi mau nganterin,” Jawabnya, membuat gue bete “Tapi, kan aku udah janji sama kamu. ” dia mengeluarkan senyum sejuta wattnya.

Percakapan tadi mengakhiri pembicaraan, akhirnya gue pamit mau pergi.

Kak Fauzan udah ngerespon dia, mungkin gue harus coba ngalihin perasaan gue ke orang lain. Mungkin gue harus meredakan gosip-gosip kalau gue suka sama dia. Mungkin gue harus pacaran sama perempuan lain.

Dan dua hari lagi, ulang tahunnya.
( Label: , ) Read more

Thursday, 27 December 2012

0 comment

Daisy. keindahan yang sederhana #6

Berubah demi diri sendiri

“Woy, Han. Ntar mau ngeband, gak lo? jangan molor mulu di rumah! ” Reza menepuk pundak gue.

Gue biasa temenin si Reza ngeband, sebenernya gue bukan anggota band atau ada niat buat serius jadi anak band, gue cuma sekedar main doang, dan main sama anak-anak di situ juga, trus pas selesai di traktir makan sama Reza.

“Iya.” Jawab gue. Lumayan, ngisi waktu luang daripada ntar kepikiran si Fika.

“Lho? Farhan anak band, ya?” Fika menangkap pembicaraan kami “Aku kira kamu suka tae kwon do aja.”

Gue langsung belagak keren di depannya “Iya, gue megang gitar, sih. Si Reza drummernya. Keren, kan? Lagi serius ngeband, sih. Niatnya biar jadi pemain band gitu, Fik.”

Raut wajahnya berubah, dia ngangguk tapi ekspresinya aneh kemudian pergi.

Reza malah toyor kepala gue “Speak aja, serius darimana lo?”

“Cewek suka sama cowok anak band, kan?”

(Gatau kenapa gue dulu ngomong begitu, dasar ababil yang mau keliatan keren! )

*

Pelajaran ketiga kosong, gurunya nggak datang karena berhalangan(bukan lagi dapet). Alhasil kami nggak belajar karena gurunya lupa ngasih tugas. Gue pura-pura tidur di kursi, sebenarnya gue dengerin anak perempuan yang lagi kumpul. Mereka ngobrol tentang sesuatu.

“Lo udah pernah ciuman, ya?!” Tanya seseorang yang membuat gue tertegun.

“udah, 3 kali ” Jawabnya yang kemudian disusul dengan suara berisik “Lo udahan ya, Fik?” Dia bertanya pada Fika, yang ngebuat gue terkejut ( :kagets
) tapi tetap pura-pura tidur.

Dia lama ngejawab, tapi yang lain agak berisik.

“Sama suami aja, nanti. ” Katanya polos.

Kemudian semua anak perempuan yang berkumpul jadi heboh, Fika masih polos. Dia baru pacaran sekali itupun karena mau ngerasa gimana rasanya punya pacar. Percaya atau nggak, Fika benar-benar perempuan yang begitu, makanya gue bingung, ntar dia bisa, dong dibegoin sama cowok-cowok di luar sana? (gue berasa jadi bapaknya ).

“Lo suka sama cowok yang kaya gimana, Fik?”

“Ng... orang yang bisa bertanggung jawab, pintar, bisa ngelindungin aku, pokoknya orangnya nggak macem-macem, deh! Udah, ah, malu jadinya. ”Jawabnya malu-malu, kemudian disambut dengan ‘hoooooohhhh’ oleh cewek-cewek di situ.

“Kalo Farhan gimana, Fikaaaa??” Celetuk seorang perempuan yang nggak gue ketahui siapa “Dia kan bisa bertanggung jawab, lho, anak tae kwon do udah sabuk merah, pinter, dan kayaknya deket banget sama lo? Hihihi... ”.

Fika kedengaran bingung “Hah?”

“haaaaa! Wajah Fika merah, tuuuuhhh!”

Gue senyum-senyum.

“Tapi... aku nggak suka sama cowok anak band.” Lontarnya jujur.

JRENGGGGG!! :confused

“Hahahahahaha! Kasian si Farhan!” Seru seorang perempuan di situ kemudian dia nepuk pundak gue kencang.

“Heh! Berisik banget lo semua! :mad ” Gue pura-pura marah gara-gara terbangun, padahal dari awal gue pura-pura tidur.

“Eh, Han. Si Fika gak suka sama anak band, tau. Ternyata lo anak band juga? Gue kira cuma bisa matahin kayu sama beton aja. Hahaha... (dia liat pas gue matahin kayu ).” Adu Resti, kemudian yang lain cekikikan.

“Resti!” Fika memberikan isyarat biar Resti nggak meneruskan kalimatnya “udah!”

Seharusnya gue jujur sama Fika kalo gue bukan anak band, sebenernya gue cuma mau kelihatan keren di depannya doang kok, dan kalo gue jujur, apa jawabannya bakalan beda?

*

Berubah demi seseorang. LOL

Update gue di facebook waktu malam. Di situ ada tulisan LOL tapi gue nggak ngakak, biasa aja sih. Cuma biar nggak serius-serius banget di status itu.

Saat gue kembali ke beranda, gue ngeliat satu notifikasi dari Fika, dia mengomentari status gue.

Fika Azalea : berubah demi siapa? Kenapa demi seseorang? Kenapa nggak demi diri sendiri atau demi Yang Maha Kuasa aja? Tapi kalo yang dimaksud berubah ke arah yg lebih baik it’s ok, tapi kalo berubahnya kepribadian dan ga jadi diri kamu sndiri, untuk apa? Merepotkan. Suatu hari nanti, ada seorang perempuan yang menerima kamu apa adanya, kok
Jangan2 kamu mau berubah demi org yg lagi kamu suka sekarang? Untuk apa, Farhan?

Gue bengong, dan gue ngebalas komentarnya, bukan lewat facebook, tapi lewat SMS. Sebenernya malu juga, sih dinasehatin begini, sama dia pula.

Sent to Fika : Assalamualaikum. Fik, Huhuhu, iya bu Fika. Maapin Farhan.

Fika : Waalaikumsalam Farhan. Dih, apaan sih?

Gue senyum-senyum lagi. Kemudian menatap kalender, sekarang tanggal 25 November. Beberapa hari lagi ulang tahun Fika. Gue bingung harus kasih kado apa, kado yang buat dia tersenyum bahagia, dan kado yang nggak bisa dia lupain.

*

Hari ini rekor bagi gue, tumben gue datang ke sekolah pagi-pagi. Di kelas udah ada Fika, dia duduk sendirian lalu menyapa gue seperti biasa. Dia heran karena kehadiran gue yang lebih cepat dari biasanya.

“Hei, beloooo... Udah nggak galau?” Dia tersenyum simpul, matanya terlihat berbeda “Lo nggak trauma suka sama cowok kan, Fik?”

“udah lama move on kali, Farhan. Hmm... Emang agak takut juga, sih. Tapi... sekarang aku lagi suka sama seseorang, Han...”
Begitu mendengarkan suara yang terlontar itu, mendadak gue membeku.Gue berharap dia menyebut nama gue malu-malu. Makanya gue coba tanya, siapa tahu?

“Inisialnya?”

“F.”

gue tersenyum “Berapa huruf?”

“Enam.”

F.A.R.H.A.N. Ada 6 huruf.

“Inisial terakhir???”

“N.”

Astaga, itu benar-benar gue?

“Namanya Fauzan. Waktu beli minum di kantin yang rame banget, dia malah nawarin aku buat duluan, dia ekskul KIR, Han.”

Senyum gue memudar “Oh.”

“Aku seneng banget, Farhan.Tadi dia nyapa aku di tangga waktu ketemu.”

Dia tersenyum manis layaknya perempuan jatuh cinta, sedangkan gue, senyum tipis layaknya orang yang patah hati. Mata Fika berbeda dengan sama yang dulu. Sekarang... dia kelihatan benar-benar jatuh cinta.
( Label: , ) Read more

Monday, 17 December 2012

0 comment

Daisy.Keindahan yang sederhana #5

 CRUSH



Pagi ini gue dan Reza terpaksa mengemudikan motor dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya gara-gara telat 15 menit, semalam gue kelelahan latihan tae kwon do terus-terusan, abis itu malah main PS. Gue terpaksa harus mengalihkan perasaan galau ini daripada berdiam sendirian di kamar kemudian menjadi galauers (jiaelah).

“Mampus! Pak Rustam jaga di depan tangga!” Reza menunjuk seorang lelaki berkumis tebal “Rambut gue gondrong lagi!”

“Yah, gue juga, Za. Belom cukur rambut. Udah nyentuh kerah baju. Mati deh, kita.”

Kami nggak bisa melarikan diri, udah terjebak. Gerbang sudah ditutup satpam begitu kami masuk, pak Rustam berdiri di depan tangga, pak Jono memeriksa seluruh kantin.

“ngumpet di perpus aja deh, Han.” Usul Reza yang kemudian gue beri anggukan, kami memarkirkan motor dulu, tapi mesin kami matikan biar nggak terdengar, kemudian kami berlari ke perpustakaan yang tampak sepi.

“Lho, kalian ngapain ke perpus pagi-pagi? Kalian ngumpet, ya?” Bu Indri, penjaga perpustakaan bertanya pada kami dengan nada menyelidik seolah kami tersangka yang tertangkap basah.

“Nggak, bu. Mau minjem buku... ” Alasan Reza.

“Sebentar” Bu Indri keluar dari perpus, kemudian gue merinding.

“Nahhh! Ketahuaannn!!”

Kami menoleh ke belakang, melihat pak Rustam di depan pintu sedang berkacak pinggang, cahaya yang membelakanginya memberikan kesan dramatis seolah dia adalah pahlawan sedangkan kami penjahat yang tertangkap.

Anjrit, apes banget! Bu Indri ngasih tau pak Rustam!

“Sudah telat malah ngumpet!! kamu, Farhan!jangan mentang-mentang kamu punya prestasi di bidang bela diri lantas mau telat mulu, ya!! (sape juga yg mau telat? )” Dia menjewer gue, kemudian menjewer Rizal “lari muterin lapangan 10 kali!”

Sebelum Reza mulai menawar, gue menyikuti perutnya yang sedikit buncit. Dia ngerti, dulu dia pernah mau negosiasi sama pak Rustam buat ngurangin hukuman, tapi pak Rustam malah nambahin hukuman itu. Akhirnya Reza diam seribu kata lalu dengan terpaksa kami berlari mengitari lapangan sekolahan 10 kali.

“Gak kuaaaaat! ” Reza duduk dengan peluh yang terus menetes, baru aja 5 putaran udah kelelahan. Gue rasa perut zeropacknya [baca: buncit] bisa hilang sedikit kalau lari 12 putaran begini.

“Farhan! Reza!”

Gue mengenali suara itu, begitu gue mendongak, terlihat sosok Fika sedang berdiri di koridor melambaikan tangannya dengan senyum lebar.
Semangat gue terpacu, gue lari lebih cepat mampu menyelesaikan hukuman itu meskipun sesekali gue berhenti buat mengatur napas sementara Reza berusaha setengah mati buat lari, punggungnya udah basah dan lengket gara-gara keringetan.

“udah muterin, pak. 10 kali! ” gue melapor pada pak Rustam, kemudian dia mencatat sesuatu ke dalam buku. Gue menebak ada nama gue dan Reza di dalam buku itu. Kemudian beliau ngegunting rambut gue yang nyentuh kerah asal-asalan. Terpaksa, deh nanti cukur rambut.

Baru saja gue dan Reza mau naik tangga, bu Indri memanggil Reza. Jadi gue bergegas menaiki tangga untuk menyusul Fika, setelah ketemu, gue menghampiri Fika yang sedang berjalan dengan earphone yang terpasang di telinganya, gue menarik satu earphone itu.

“Lagu apaan, nih?”

“Crushnya David Archuleta.”

Gue dengerin lagu itu sampai pas si David David siapa gitu nyanyi, gue bengong pas di bagian.....

Has it ever crossed your mind
When we're hanging, spending time girl?
Are we just friends? Is there more? Is there more?

Gue dan Fika berjalan menyusuri koridor, gue masih bengong dan dengerin lagu itu dengan wajah poker face meme( ), dan gue ngerasa lagu itu GUE BANGET.

“Gue minta lagunya ya, kayaknya bagus, nih!”

Kemudian, gue putar ulang lagu itu terus berulang kali sambil membayangkannya.

“Aku ada lagu anime baru, lho.” Fika membuyarkan bayangan gue.
( Label: , ) Read more

Tuesday, 11 December 2012

0 comment

Daisy. keindahan yang sederhana #3


Fika terlalu sabar


Udah beberapa bulan ini gue dekat sama Fika, obrolan kita nyambung dan dia bilang senang punya teman kaya gue. Tapi, akhir-akhir ini Fika kelihatan beda, nggak tau apa yang ngebuat dia begitu yang pasti gue ngerasain aja.

Waktu itu jam kosong, gurunya nggak ada gara-gara sakit, ya kemudian guru piket datang sambil bawa tugas buat anak-anak.

"Ini ada tugas dari guru kalian, semua. Beliau sedang sakit jadi tidak mengajar." Kata guru piket itu sambil memberikan selembar kertas pada ketua kelas.

Murid-murid mengamati dengan ekspresi sok kalem waktu ada guru piket ( : )

"Ya sudah, kerjakan, ya!" Katanya, kemudian pergi.

Walaupun dikasih tugas juga anak-anak tetap berisik, dan benar aja, dalam waktu sepersekian detik setelah guru piket pergi, sekolah berasa kaya pasar plus konser musik abal.

"wasweswosblablaasdfrawrrr." :bettys Begitu kedengarannya waktu guru pergi.

"Fik, lo udah punya mantan berapa?" Tanya gue iseng karena nggak ada kerjaan dan mumpung jam kosong.

Pipinya memerah "Kenapa tanya gitu?''

Gue ketawa liat pipinya "Jiahhh, merah gitu. Banyak, yaaaa?? Pasti ada 10."

"Jangan sok tau, deh."

"Tujuh."

"Nggak." :mad

"Lim...."

"NOL."



Gue tertegun "Jadi, lo belom pernah pacaran, Fik?! Baru sekali doang sama si itu?"

Dia mengangguk, membuat gue senyum lemes gara-gara memaksakan otot wajah naik. Sial, rasanya ini tanda-tanda patah hati. Tampaknya semalam suntuk gue bakal main Play Station lagi sama Reza.

"Fik, besok ada J-fest. Mau bareng?"

Fika mengangguk.

*

Gue adalah cowok pertama yang bisa dekat sama dia, bahkan menjadi tempat curahan hatinya. Gimana gue nggak senang kalau gue menjadi seseorang yang bisa dipercayainya? Dia termasuk perempuan yang tertutup, dan dia bisa terbuka sama gue. meskipun dia jarang cerita soal pacarnya.

Hari ini ada J-fest, gue dan Fika pergi bareng. Tadinya Fika menolak pergi karena si pacar nggak datang(biasa datang bareng sama pacarnya sih), tapi gue membujuknya sekuat tenaga, akhirnya dia mau datang juga. Sebenarnya gue sengaja ngajak buat ngusir rasa sedihnya. Akhir-akhir ini pacarnya lebih cuek dari biasanya, padahal udah beberapa bulan mereka bersama sejak waktu itu. Tapi syukurlah rencana gue berhasil ngusir rasa sedih Fika meskipun sebentar.

Fika begitu manis hari ini meskipun tanpa polesan make up, sama seperti hari-hari sebelumnya. Di sana Fika tampak senang, kami berfoto, makan bersama, tertawa bersama, dan berjalan bersama, sayang WC dan tempat sholat yang beda

Meskipun dia menganggap ini adalah jalan-jalan bersama teman, gue anggap ini kencan pertama kita.

Baru aja kami mau pulang karena sudah berjam-jam di sini. Sebenarnya gue nggak mau pulang, gue mau lebih lama bersamanya selelah apapun itu. Tapi, gapapa. Setidaknya hari ini gue berhasil membuat dia senyum dan ketawa lepas gara-gara gue dikasih minum Ocha(teh hijau), muka gue jelek banget pas kepaitan kata Fika.

Sampai akhirnya satu hal membuat senyumnya lenyap.

Dia melihat pacarnya datang bersama perempuan lain di stand takoyaki, gue dan Fika berdiri di stand okonomiyaki dekat situ, sebenarnya nggak terlalu jauh, cuma terlalu banyak orang-orang di sini, mungkin dia juga nggak ngeh kalau ada Fika di sini.

Cowok itu memakai topeng hollownya Ichigo di komik Bleach, mungkin dia berjaga-jaga kalau ada Fika, makanya pakai topeng, tapi sebelum ia pakai topeng itu Fika udah melihatnya. Kemudian gue dan Fika memata-matai mereka. Awalnya Fika emang positive thinking kalau perempuan itu adalah adik atau sepupu pacarnya, tapi mereka bergandengan tangan dan tampak mesra.

"Gue samperin, Fik."

Baru gue mau jalan, Fika malah narik gue jauh dari situ, dia ngelarang gue buat ngebela dia di situ. Dia bilang nggak mau ribut di keramaian, dan biarin aja masalah dia yang selesaiin.

Fika sulit menepis kebenaran yang ada meskipun dia udah positive thinking, kenyataannya nggak seperti yang dia bayangkan, perempuan itu bukan adiknya atau sepupunya. Pacarnya udah selingkuh, Fika cuma bisa diam dan pulang sendirian, dia menangis dalam diam karena gue nggak liat air mata Fika. Sementara gue nggak bisa apa-apa.

Fika terlalu sabar.

Gue nggak ngerti jalan pikiran Fika, kenapa dia diam aja? Kenapa dia bisa pulang tanpa tetesan air mata? Kenapa dia ngelarang gue buat ngebela dia di situ? Kenapa dia nggak samperin pacarnya? Kenapa jalan pikirannya nggak gue ngerti??
( Label: , ) Read more

Monday, 10 December 2012

0 comment

Daisy. keindahan yang sederhana #2


 In a Relationship


Reza bilang selera gue aneh karena suka sama Fika, soalnya Fika sering bengong ngeliatin ke luar jendela sambil senyum-senyum, kadang ngomong sendiri, ngomong kadang nggak ada suaranya saking kecilnya, dia dibilang Fika nggak fresh kaya cewek-cewek yang lain, atau Fika suka gemeteran kalau di deketin sama anak-anak cowok. Tapi menurut gue Fika itu manis, dan dia apa adanya.

“Lho, Ka. Lo suka gambar?!” Tanya gue begitu dia kepergok sedang menggambar. Dia langsung menutupi gambarnya dengan buku tulis sambil menunduk nggak mau memperlihatkan karyanya.

“Gapapa, Ka. Gue juga suka liat gambar-gambar, kok. Soalnya kan gue suka baca komik.”

Raut wajahya berubah, dia mendongak dan menatap gue dengan matanya yang besar dan bulat, sejak itu gue berencana memanggilnya belo.

“Kamu suka gambar juga? ” gue mengangguk, suka tapi nggak bisa. Kemudian dia mengasih kertas bergambar ke gue “Jangan kasih tau siapa-siapa, ya.”

Gue mengangguk lagi, senang sekali gue orang pertama di sini yang melihat karyanya. Begitu melihat gambar itu, gue tercengang. Bagus buanget gambarnya. Rupanya dia ada bakat seni.

“Gambar lo bagus... banget!”

Lagi-lagi dia tersenyum, kali ini lebih lebar, dan lebih hangat.

Gue mau salto sambil kayang lagi saking senengnya.

*

Sejak dia kasih tau gambarnya, gue jadi deket sama dia. Mungkin takdir. Gue orang pertama yang dikasih tau karyanya di kelas ini, seneng lah. Ternyata Fika suka komik dan anime juga, jadi makin dekatlah kita karena satu kesukaan

Saat itu gue mikir, mungkin gue bisa jadian nantinya sama dia


Fika nyolek bahu gue “Farhan, kamu udah ngerjain PR kimia?”

“Udah. Kenapa?” :rolleyes

“Bisa ajarin aku, nggak?”

Gue langsung memberikan buku tulis gue yang tadinya sedang menganggur “Catet aja dulu jawabannya, sebentar lagi pelajaran dimulai, nanti kalo ada waktu gue ajarin!”

“Makasih. ” Dia menerima buku gue dan mulai menyalin, disusul oleh Rasti, Reza, juga teman-teman yang lain. Mereka semua mencontek jawaban gue.

Gue termasuk murid pintar di kelas ini (pede), tapi kadang gue males. Entah kenapa semenjak ada Fika di kelas, gue jadi tambah rajin dan semangat ke sekolah.

Meskipun Reza bilang Fika aneh, nyatanya ada aja yang suka sama Fika. Mungkin mereka ketemu waktu berpapasan dan naksir sama dia, ya nggak heran, sih. Fika manis. Dan mendadak gue bengong.

Saingan gue nambah. :metal

Gue juga bete waktu gue lagi minjam HPnya, tiba-tiba ada SMS nggak dikenal mau pedekate.

“Nih, sms lagi.”

Fika menghentikan aktivitasnya yang tadinya sedang menyalin PR kimia sendirian karena yang lain sudah selesai mencatat, oh ya, dia emang agak lelet kalau menulis, tapi rapih banget nulisnya.

“Cuekin aja, Han.” Ucapnya.

Gue senang, dia nggak menanggapi lelaki itu . Gue baru tau Fika agak takut sama cowok . Padahal tadinya gue berpikir kalau ada lelaki tampan yang menyatakan cintanya, dia langsung terima. Tapi, diantara yang lain, yang membuat gue bete adalah, mendapat satu berita kalau beberapa hari kemudian Fika berstatus In a relationship sama seorang cowok yang bersekolah di kawasan Jakarta Selatan

Awalnya dia dikenalin temannya. Mereka satu hobi, satu keahlian, obrolan mereka nyambung, jadi... gue...

nyerah aja kali, ya? :
( Label: , ) Read more

Thursday, 6 December 2012

0 comment

Daisy. keindahan yang sederhana #`1


Nasi putih darinya


Kisah ini berawal dari MOS di SMA yang terletak di kawasan Jakarta, di kelas X-5 gue panik karena nggak bawa nasi putih seperti yang diperintah senior. Reza, sahabat gue aja bingung harus gaimana, tadinya gue mau keluar beli nasi, atau muntahin sarapan gue barusan ( ), tapi gue mengurungkan niat karena udah bel.

Entah kenapa tiba-tiba perempuan yang duduk di seberang gue ngasih sebungkus nasi putih. Dia senyum memperlihatkan kedua lesung pipinya yang nggak begitu kelihatan.

“ambil aja nasinya.” Katanya.

“Lah, terus nasi lo gimana?”

“Aku udah punya, kok.” Katanya sambil tersenyum tipis.

“Lo bawa dua nasi, gitu?”

Ia menggeleng “udah, ambil aja.”

Gue tersenyum lega. Perempuan itu kembali duduk. Awalnya dia sendirian, butuh waktu lama biar ada orang lain yang duduk di sebelahnya. Mungkin di kelas ini nggak ada yang dia kenal, juga nggak ada yang kenal dia.

Nggak lama setelah itu senior datang ke kelas, mereka ngasih tau peraturan-peraturan yang nggak boleh dilanggar, de el el, gak penting diceritain. Kemudian kami diperintah turun ke lapangan buat PBB, kalau boleh jujur gue paling males yang beginian. Tapi selama PBB gue nggak ngerasa males seperti biasanya karena gue terus ngelirik perempuan di samping gue, perempuan yang ngasih nasi putih tadi. Gue belum kenalan, tapi di nametag besarnya tertulis Fika Azalea (nama disamarkan ).

Gue bingung dan melongo kaya sapi ompong, saat kami dijemur lama di lapangan, dia angkat tangan, wajahnya pucat. Tapi nggak bilang nyerah kaya di acara tv ajang nyali sama setan-setan begitu.

“Kenapa, de?”

“Saya boleh izin keluar barisan?”

Tanpa bertanya kenapa, senior itu mengeluarkan Fika dari barisan karena wajahnya pucat, Fika duduk di belakang dekat tanaman-tanaman. Gue mikir, jangan-jangan nasi yang dia kasih tadi itu sarapannya?

Samar-samar gue dengar jawaban Fika waktu ditanya senior “maaf, kak. Saya belom makan pagi tadi buru-buru.”

Setelah waktu PBB selesai, kami naik lagi ke lantai tiga untuk masuk ke kelas. Begitu Fika udah duduk, gue mendekat.

“Lo gak sarapan?”

“Sarapan,” Jawabnya dengan lemas “Kenapa?”

“Jujur aja, gue jadi gak enak sama lo, tau.”

Dia mendongak, Gue perhatiin bibirnya yang pucat

“Iya, Aku cuma mau nolong kamu doang, kok. Nggak lebih.”

“Tapi kan...”

“Kamu nolak pertolongan aku?” Potongnya, membuat gue gak bisa berkutik "Yaudah gapapa,"

Gue menggeleng “Nggak, gue gak nolak. Cuma mau bilang makasih aja, lo sampe ngorbanin sarapan lo, haha...”

"Bercanda. Aku makan, kok. Tadi nasinya kebanyakan, tapi tenang aja, nasinya udah aku pisahin setengah sebelum dimakan, kok." Katanya dengan wajah gugup kemudian mengambil sebotol air minum yang dia teguk sampai habis. Tiba-tiba saja jantung gue berdegup lebih cepat dari biasanya, dan gue menyadari itu.

MOS berikutnya, gue selalu membantu Fika. Termasuk menjalankan hukuman bersama Fika
*

MOS udah berakhir, hari ini anak kelas X mulai memakai pakaian putih abu-abu. Pakaian yang gue idamkan sejak tiga hari yang lalu.

“Oi, Fika. Lo masuk ekskul apaan?” Tanya gue iseng.

“Rohis, kamu?”v

Gue manyun “Mau ikut tae kwon do nerusin dari SD.”

Raut wajahnya mendadak berubah “Aku juga dulu ikut itu waktu SD, udah sabuk hijau.”

“Trus sekarang mau diterusin?”

Dia menggeleng “Nggak, aku mau rohis aja. Kebetulan juga Rasti ikut rohis gara-gara aku ikut itu, jadi bisa bareng dia.”

“Oh, lo gak punya temen, ya?” Tanya gue lagi, dia diam “Kan ada gue.” Tanpa sadar gue mengucapkan itu, astaga, itu kaya kata-kata orang yang mau pedekate. Gue salah ngomong dan berasa mau salto sambil kayang. :

Diluar dugaan dia tertawa kecil “Iya iya...”

Kemudian gue tersenyum, eh nyengir.
( Label: , ) Read more
Best viewed on firefox 5+
Copyright © Design by Dadang Herdiana